Bulan April pasti selalu identik dengan perempuan. Tiba2 bertebaranlah segala sesuatu yang berhubungan dengan perempuan. Semangat perempuan, sale khusus untuk perempuan pemegang kartu kredit anu atau ani dan semua majalah pasti memuat sesuatu mengenai perempuan, wanita, cewek, whateverlah.
Saya sendiri sejauh ini melakukan dua hal yang berhubungan dengan media dan publikasi mengenai perempuan. Yang satu adalah mengisi talk show mengenai perempuan dan diving, yang satunya interview dengan satu majalah yang ingin tahu geologist perempuan itu seperti apa.
Pertama, soal diving. Karena saya salah satu inisiator Female Divers Indonesia, makanya diajak isi acara talkshow yang diadakan oleh MetroTV pada acara Deep Indonesia tanggal 26 Maret 2009 yang lalu ini. FDI sendiri salah satunya ingin mengajak lebih banyak perempuan untuk diving. Lebih banyak yang diving, lebih banyak yang cinta laut. Lebih banyak yang cinta laut, lebih banyak yang merawat laut, gitu logikanya. Saya tidak punya data statistiknya, tetapi memang kenyataannya jumlah perempuan yang diving masih jauh lebih sedikit daripada laki2. Yang lanjut ke jenjang atau level yang lebih tinggi semakin sedikit lagi komposisinya. Dan selama ini, menyelam memang masih dianggap sebagai kegiatan cowok. Malah ada laki2 yang membuat divetrip eksklusif untuk pria karena alasan perempuan bakal nyusahin.
Kedua, soal profesi yang memberi saya makan alias geologi. Ternyata, dari pertanyaan sang jurnalis, dia masih menganggap bahwa geologist itu identik dengan laki2. Saya sendiri karena sudah sekian lama di dunia perminyakan yang nota bene industri penuh lelaki ini, sampai ga kepikiran kalau geologi masih dianggap sesuatu yang identik dengan laki2. Padahal, geologist perempuan sekarang sudah semakin banyak. Malah kalau saya kasih bicara di kampus, sudah lebih banyaklah mahasiswinya dibandingkan waktu zaman saya masih kuliah dulu.
Diving dan geologi. Saya ingat salah satu narasumber di acara talkshow di diving tersebut adalah Ibu Nunung, seorang instruktur diving yang sudah 32 tahun menyelam dan merupakan salah satu perempuan pertama yang menggeluti dunia selam di Indonesia. Waktu itu ada pertanyaan, apa bedanya penyelam perempuan dan laki2. Jawab Ibu Nunung, bedanya adalah apa yang perempuan miliki dan laki2 tidak memiliki: rahim. Jadi, kalau perempuan sedang hamil, ya harus lebih berhati2 dan lebih baik tidak menyelam karena resikonya untuk sang janin. Ya, itu silent bubble kan kita ngga tahu akan lari kemana. Kalau menstruasi, yang ditanya malah apa ngga dikejar hiu. Yang mana, ternyata hiu tidak suka bau darah menstruasi karena bukan darah segar. Jadi hiu2 pada menjauh kalau ada diver yang sedang haid.
Sekarang geologi. Lumayan menarik juga interviewnya, karena yang menginterview adalah orang yang bisa dibilang awam, tidak tahu geologist di perminyakan itu seperti apa kerjanya (pikirannya ke lapangan dan lihat batu dan naik gunung padahal kalo bisa lihat batu dari core saja rasanya udah girang banget hari gini). Tahunya, geology itu identik dengan dunia laki2. Jadi, saya jelaskan sedikit kerjaan saya yang sekarang, yang kebanyakan ngendon di kantor menginterpretasi data, atau lebih tepatnya lagi, memikirkan apakah ilmu geologi yang tepat telah diterapkan dalam eksplorasi minyak dan gas bumi. Jadi lebih banyak lihat data2 seperti seismik, data sumur, baca laporan trus bilang, “Nih, bor di sini”.
Seperti biasa, si Otak Sibuk ini masih juga mikir ke sana kemari pas lagi ngomong dengan sang pewawancara yang cantik ini. Kata saya, semua pekerjaan itu tidak ada gendernya. Manusia aja yang memberikan label terhadap profesi dan kegiatan bahwa yang ini laki yang ini perempuan. Kalau satu pekerjaan itu lebih maskulin daripada feminin, ya itu ada. Wong perempuan aja suka ada sisi maskulinnya kok.
Rasanya hampir bisa dibilang bahwa semua tentunya setuju bahwa semua pekerjaan bisa dilakukan oleh laki2 maupun perempuan. Yang dulu monopoli laki-laki, perempuan juga bisa masuk. Malah ada yang lebih bagus lagi kwalitasnya dari koleganya yang laki2. Di Amerika, supir bus saja ada yang perempuan. Jadi, perempuan dan laki2 sebenarnya bisa saja mengerjakan pekerjaan apapun juga. Ya kalau udah kadung suka dan hobby, ya gemana dong ya?
Jadi, apa bedanya perempuan dan laki2 dalam diving maupun pekerjaan? Sambil mikir2 dan sedikit cerita, saya jadi mikir apa yang dikatakan Ibu Nunung: rahim. Saya malah pikir, kadar estrogen dan kadar testosterone. Karena perempuan tidak punya masalah dengan testosterone, maka perempuan jarang melakukan hal2 yang ceroboh untuk membuktikan sesuatu. Saya katakan di acara talkshow, saya belum pernah ketemu perempuan yang bilang, “Eh, kita dalem2an nyelem yuk!” cuma untuk membuktikan di dive computer mereka bahwa mereka sudah pernah ke kedalaman sekian. Perempuan bisa dibilang jarang membuktikan egonya seperti itu.
Bagaimana dengan di dalam pekerjaan? Ya kalau saya hanya bisa melihat kalau semua pekerjaan di oil company bisa dilakukan oleh perempuan. Kalau mau, semua pekerjaan bisa dilakukan oleh perempuan. Masalah pilihan saja kok. Lha orang engineer di rig juga mulai banyak perempuan, apalagi di luar negri.
Kalau Ibu Nunung mengatakan bahwa bedanya adalah apa yang kita punya dan laki2 tidak punya alias rahim, saya bisa lebih meluaskannya dengan mengatakan bahwa it’s the hormone. Sudahlah, kaum feminis ekstrimis jangan deny kalau memang perempuan dan laki2 itu memang kodratnya beda. Dalam arti kata, lha secara hormonal laki2 dan perempuan itu beda kok. Dan saya orang yang sangat sangat percaya dengan yang namanya hormon.
Hormon mengatur segala macam kerumitan yang terjadi di dalam tubuh kita. Bedanya perempuan dan laki2, kadar hormon testosterone (atau lebih dikenal sebagai hormon laki2) lebih banyak daripada perempuan. Sebaliknya, kadar hormon esterogen dan progesteron lebih banyak pada perempuan dibandingkan dengan laki2. Testosterone membuat laki2 lebih agresif. Coba lihat bodybuilders, kalau Anda penggemar body building, tentunya familiar dengan istilah ’steroid’. Atlit2 yang menggunakan steroid (untuk membuat otot mereka lebih besar), biasanya lebih pemarah. Coba ke bagian free weight yang umumnya didominasi kaum Adam ini. Kalau dalam cyclenya mereka lagi ‘on’, mereka biasanya agresif dan pemarah.
Sebaliknya, tentunya semua tahu bahwa perempuan memiliki cycle yang khas yang ditandai dengan menstruasi. Kadar estrogen dalam tubuh perempuan berubah dalam siklus bulanan. Si estrogen ini juga yang mempengaruhi ‘mood’ perempuan dan juga keadaan fisik perempuan. Tentunya tahu dong, kadang2 perempuan lebih sensitif pada hari2 tertentu karena kadar estrogennya lagi naik? Kadang juga berpengaruh ke fisik, misalnya jadi jerawatan, bloating alias kadar air dalam tubuh lebih meningkat. Tentunya bisa relate juga dong, kalau saya bilang ada hari2 dimana kita berasa bener2 ngga asik aja, pengen marah atau pengen nangis atau bahkan sedih banget sampai depresi kalau menjelang mens. Saya punya kenalan yang suka ngotak ngatik badannya dengan steroid, yang pada cyclenya membuat tubuhnya mempunyai kadar esterogen yang lebih dibandingkan dengan normal. Sang kenalan yang laki2 ini, nonton filem yang biasa2 aja bisa nangis, padahal itu filem sedihnya ya biasa2 aja. By the way, he is into body building. Nah, ini yang membuat challenge perempuan lebih seru kalau berada di lingkungan yang kebanyakan laki2. Karena mereka musti deal dengan kondisi siklus bulanan di tengah2 stressnya pekerjaan.
Pernah dengar istilah, “Woman’s touch”? Rumah tanpa sentuhan perempuan beda rasanya dengan yang tidak ada sentuhan perempuannya. Kantor maupun industri tanpa perempuan tentunya juga beda warna dengan yang ada perempuannya. Leadership perempuan juga beda dengan stylenya laki2. Apakah lebih baik atau tidak, kembali kepada individu masing2, apakah keagresifannya atau kesensitivitasannya bisa dibawa ke jalur yang positif atau tidak. Tergantung dari kearifan masing2 individu.
Pernah dengar ada yang bilang kalau seluruh dunia ini laki2, maka semua bangunan bentuknya kotak2 dan vertikal, sementara kalau semua perempuan bentuknya lebih membulat dan horizontal? Kenapa begitu ya? Karena hormon. Kenapa leadership laki2 dan perempuan beda? Karena hormon. Apa ada bedanya kalau perempuan semua pergi diving dengan kalau satu group semuanya laki2? Ada. Yang pasti kecil kemungkinan ada acara siapa berani, misalnya berani nyelem telanjang bulat atau berani dalem2an atau lama2an di dalam air. Ada juga acara curhat2an dan rumpi. Malah mungkin main dengan anak2 pesisir tempat kita melakukan penyelaman. Kalau perempuan di dunia geologi, apalagi kalau di lapangan, yang perlu membuat keputusan cepat dalam bertindak? Pastinya ada dong. Yang jelas perempuan lebih ngga perlu melakukan hal yang koboy2an dan membuktikan ‘ego’nya karena emang ga ada masalah dengan testosteronenya. Nah kenapa cowok2 yang lebih muda lebih suka melakukan hal2 yang ekstrim? Karena yang muda testosteronenya lebih banyak daripada yang lebih tua. Di situ saya rasa yang namanya kodrat. Kodrat itu berhubungan erat dengan hormon. Bukan kodrat perempuan harus di dapur atau pembedaan pekerjaan dan karir secara gender. Tetapi kodratnya adalah beda approach dalam melakukan sesuatu antara laki2 dan perempuan. Pekerjaan sih tidak ada gendernya. Yang ada pekerjaan akan beda kalau dilakukan oleh perempuan dan laki2. Entah prosesnya, pendekatannya, walaupun hasilnya sama bagusnya. Yang penting, bagaimana caranya saling mengisi dan membuat dunia ini lebih baik dengan perbedaan yang ada. Dan juga bagaimana menyiasati agar sang hormon ini tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Beda hormon, beda approach, dan tidak ada yang lebih maupun kurang, yang ada adalah perbedaan. Dan dunia tanpa warna warni kan kurang indah ya.
Dan tentunya blog saya juga beda dengan blog2 teman2 saya yang laki2. Yang penting, bisa dinikmati. Kalau ada yang tak suka, ya monggo…kalau suka, ya alhamdulillah….
It’s the hormone. Blame it on the hormone.